
Angkatan Udara Amerika Serikat mengambil langkah penting menuju integrasi antara drone dan pesawat tempur dengan mengincar Black Widow, sebuah sistem udara tak berawak berukuran kecil yang mampu menyediakan data target langsung ke F-35.
Langkah ini diformalkan melalui pengumuman yang diterbitkan pada April 2026, yang menunjukkan minat untuk mengakuisisi platform yang dikembangkan oleh TEAL Drones.
Persyaratan utama adalah kemampuan untuk beroperasi dekat dengan target dan mengirimkan, secara real time, gambar serta informasi langsung ke kokpit pesawat tempur, sehingga memungkinkan tindakan yang lebih cepat dan lebih presisi. Integrasi ini, yang dikenal sebagai MUM-T, merupakan evolusi signifikan dibandingkan drone konvensional yang biasanya bergantung pada operator di darat untuk memproses dan menyampaikan data.
Selain itu, sistem ini harus sepenuhnya kompatibel dengan ATAK, perangkat lunak yang banyak digunakan dalam operasi militer untuk berbagi informasi di medan tempur. Persyaratan integrasi native menegaskan kebutuhan akan komunikasi langsung dan efisien antara berbagai unit, serta menghilangkan ketergantungan pada solusi eksternal.

Dengan bobot ringan, daya tahan lebih dari setengah jam, serta sensor canggih yang mampu beroperasi dalam berbagai kondisi pencahayaan, Black Widow muncul sebagai solusi taktis modern. Pada saat yang sama, proyek ini mencerminkan strategi Amerika Serikat untuk memprioritaskan teknologi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada peralatan asing, terutama dalam konteks meningkatnya perhatian terhadap keamanan dan biaya operasional.
+ Angkatan Udara dan Angkatan Antariksa AS ajukan anggaran rekor sebesar US$ 338,8 miliar untuk 2027
Sumber: Defence Blog | Foto: Red Cat | Konten ini dibuat dengan bantuan AI dan telah ditinjau oleh tim editorial
U.S. Air Force Explores Black Widow Drone Delivering Live Video And Targeting Data To Airborne F-35 Fighters pic.twitter.com/8N5WoWWA6E
— Army Recognition (@ArmyRecognition) April 21, 2026
