Belanda mempertimbangkan adopsi sistem Aegis pada fregat pertahanan udara baru

Belanda mengevaluasi sistem Aegis untuk 6 fregat pertahanan udara baru
Belanda mempertimbangkan adopsi sistem Aegis pada fregat pertahanan udara baru (X @Defence_Index)

Belanda mengevaluasi kemungkinan untuk mengintegrasikan sistem Aegis ke dalam fregat pertahanan udara masa depan mereka, yang akan menggantikan kapal kelas De Zeven Provinciën saat ini.

Proyek yang diumumkan pada tahun 2024 ini melibatkan partisipasi kuat dari industri nasional, termasuk perusahaan seperti Damen Naval dan Thales, serta potensi kerja sama internasional.

Awalnya, Jerman memilih untuk menempuh jalur independen dengan memilih sistem Aegis buatan Amerika untuk fregat Type 127 mereka, sehingga mengakhiri kemitraan sebelumnya dengan Belanda. Namun kini pemerintah Belanda sedang mempertimbangkan kembali teknologi ini dan telah meminta informasi rinci kepada Amerika Serikat mengenai biaya dan jadwal melalui surat resmi yang dikirim awal tahun ini.

Meskipun ada ketertarikan, keputusan akhir belum diambil. Kementerian Pertahanan berencana menganalisis data yang diterima sebelum menentukan langkah selanjutnya, sambil tetap memberi informasi kepada parlemen. Para analis menilai bahwa konsultasi ini juga dapat menjadi dasar untuk membandingkan alternatif, termasuk pengembangan solusi nasional.

Salah satu tantangannya adalah keterbatasan sistem Aegis dalam integrasi radar dan rudal Eropa, yang dapat meningkatkan ketergantungan pada Amerika Serikat. Sementara radar SPY-6 banyak digunakan oleh Angkatan Laut AS, SPY-7 muncul sebagai alternatif yang lebih fleksibel karena dapat beroperasi dengan persenjataan Eropa. Perdebatan ini semakin relevan dengan adanya kasus terbaru, seperti keterlambatan pengiriman sistem Patriot ke Swiss, yang menunjukkan risiko strategis dari ketergantungan tersebut.

+ Angkatan Darat AS mengerahkan drone serang Hornet selama latihan militer

Sumber: Naval News | Foto: X @Defence_Index | Konten ini dibuat dengan bantuan AI dan ditinjau oleh tim editorial

Back to top