
Airbus Helicopters dan Badan Sains dan Teknologi Pertahanan Singapura (DSTA) menjalin kemitraan untuk menguji integrasi antara helikopter berawak dan drone dalam misi militer.
Proyek ini akan menggunakan helikopter H225M milik Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) serta drone Flexrotor dari Airbus, dengan tujuan meningkatkan efisiensi operasi melalui pemantauan waktu nyata yang lebih baik dan fleksibilitas taktis yang lebih tinggi.
+ Rusia memulai produksi massal kendaraan pertahanan udara Typhoon-PVO
Sistem HTeaming yang dikembangkan oleh Airbus memungkinkan pilot untuk mengendalikan drone langsung dari helikopter menggunakan kombinasi perangkat keras dan perangkat lunak khusus.
Teknologi kolaborasi antara pesawat berawak dan nirawak semakin banyak diadopsi oleh militer di seluruh dunia, menggabungkan daya tahan drone dengan pengalaman tempur manusia. Otoritas menyatakan bahwa inovasi ini bisa menjadi sangat penting dalam misi kompleks seperti pencarian dan penyelamatan dalam kondisi ekstrem.
Meski tanggal uji coba belum ditentukan, inisiatif ini menempatkan Singapura di garis depan teknologi ini, bersama beberapa negara lain yang sudah melakukan eksperimen tingkat lanjut di bidang ini.
Sumber: UK Defence Journal | Foto: X @AirbusPRESS | Konten ini dibuat dengan bantuan AI dan ditinjau oleh tim editorial
