
Militer Amerika Serikat mengatakan telah melancarkan serangan baru terhadap sebuah kapal yang diduga mengangkut narkoba di Laut Karibia, menewaskan dua orang pada Senin (4).
Informasi tersebut dirilis oleh profil resmi Komando Selatan AS di X, dalam sebuah unggahan yang menyertakan rekaman serangan udara tersebut. Menurut The Guardian, serangan terbaru ini membuat jumlah total korban menjadi 188 sejak dimulainya operasi Amerika di Karibia.
Pemerintah Amerika Serikat menyatakan sedang terlibat dalam perang aktif melawan pihak-pihak yang disebutnya sebagai “narkoteroris” di kawasan tersebut. Aksi-aksi ini meningkat pada akhir 2025 dan, sejauh ini, sedikitnya 40 kapal telah menjadi sasaran serangan pasukan Amerika.
Meski demikian, belum ada bukti yang disampaikan untuk mengaitkan kapal-kapal yang diserang dengan perdagangan narkoba. Baru-baru ini, sebuah kapal nelayan dari Ekuador yang terkena serangan di Karibia dalam salah satu operasi tersebut menyisakan korban selamat, yang berhasil membuktikan bahwa tidak ada narkoba yang diangkut di kapal itu.
Dalam wawancara dengan surat kabar Hora do Povo, Fernando Cedeño, anggota parlemen dari Ekuador, mengatakan bahwa insiden tersebut menyoroti kegagalan kebijakan antinarkoba pemerintahan Trump, yang, “dengan dalih memerangi narkoba”, terus merenggut nyawa orang-orang tak bersalah.
On May 4, at the direction of #SOUTHCOM commander Gen. Francis L. Donovan, Joint Task Force Southern Spear conducted a lethal kinetic strike on a vessel operated by Designated Terrorist Organizations. Intelligence confirmed the vessel was transiting along known narco-trafficking… pic.twitter.com/8S1feXpSiL
— U.S. Southern Command (@Southcom) May 5, 2026
Foto dan video: X @Southcom. Konten ini dibuat dengan bantuan AI dan ditinjau oleh tim editorial.
