
Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe) telah menerima pesawat angkut militer A400M ke-52, memperkuat armada angkut berat negara tersebut. Dikembangkan oleh Airbus Defence, pesawat ini dianggap sebagai salah satu pilar utama logistik udara Eropa.
A400M ditenagai oleh empat mesin turboprop dengan total daya sekitar 44.000 hp, mampu mencapai kecepatan maksimum hingga 750 km/jam, serta memiliki jangkauan lebih dari 8.700 km.
Dalam konfigurasi muatan maksimum 37 ton, pesawat ini dapat beroperasi lebih dari 3.300 km, sambil tetap mempertahankan kemampuan lepas landas dan mendarat di landasan tidak beraspal—sebuah keunggulan penting untuk operasi ekspedisi.

Menurut Luftwaffe, pesawat ini mendukung misi angkut strategis dan taktis, evakuasi medis udara, bantuan kemanusiaan, serta pengisian bahan bakar di udara. Dari sisi kapasitas, A400M menawarkan sekitar 50% muatan lebih besar dibandingkan C-390 Millennium buatan Embraer, yang menegaskan bahwa kedua model melayani profil operasional yang berbeda dan bukan pesaing langsung.
Jerman secara historis berinvestasi besar dalam logistik udara karena perannya sebagai hub logistik NATO. Pangkalan-pangkalan Jerman menerima arus harian pesawat dari Amerika Serikat, dari mana peralatan dan pasukan didistribusikan kembali ke negara-negara aliansi lainnya—dan, bila diperlukan, ke operasi di luar aliansi.

Dengan penyerahan unit ke-52, Berlin memperkuat kesiapan logistiknya serta kemampuan respons cepat NATO dalam skenario krisis, sekaligus mempertahankan Luftwaffe di antara angkatan udara Eropa dengan kapasitas angkut berat terbesar.
+ Patria menampilkan kendaraan lapis baja berantai TRACKX untuk pertama kalinya dalam uji lapangan
Sumber dan gambar: Airbus Defence (@AirbusDefence). Konten ini dibuat dengan bantuan AI dan ditinjau oleh tim editorial.
